Tak Cukup Hanya Cinta

April 10th, 2008 by iwhayuuk

“Sendirian aja dhek
Lia? Masnya mana?”, sebuah pertanyaan tiba-tiba mengejutkan aku yang
sedang mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir Qur’an di Mesjid
komplek perumahanku sore ini. Rupanya Mbak Artha tetangga satu blok
yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia rajin datang ke majelis
taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang pertama yang aku kenal
disini, Mbak Artha juga yang memperkenalkanku dengan majelis taklim
khusus Ibu-ibu dikomplek ini. Hanya saja kesibukan kami masing-masing
membuat kami jarang bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji seperti
ini atau saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin karena sama-sama
perantau asal Jawa, kami jadi lebih cepat akrab.

“Kebetulan Mas Adi
sedang dinas keluar kota mbak, Jadi Saya pergi sendiri”, jawabku sambil
memakai sandal yang baru saja kutemukan diantara tumpukan sandal-sendal
yang lain. “Seneng ya dhek bisa datang ke pengajian bareng suami,
kadang mbak kepingin banget ditemenin Mas Bimo menghadiri
majelis-majelis taklim”, raut muka Mbak Artha tampak sedikit berubah
seperti orang yang kecewa. Dia mulai bersemangat bercerita, mungkin
lebih tepatnya mengeluarkan uneg-uneg. Sebenarnya
aku sedikit risih juga karena semua yang Mbak Artha ceritakan
menyangkut kehidupan rumahtangganya bersama Mas Bimo. Tapi ndak papa
aku dengerin aja, masak orang mau curhat kok dilarang, semoga saja aku
bisa memetik pelajaran dari apa yang dituturkan Mbak Artha padaku. Aku
dan Mas Adi kan menikah belum genap setahun, baru 10 bulan, jadi harus
banyak belajar dari pengalaman pasangan lain yang sudah mengecap asam
manis pernikahan termasuk Mbak Artha yang katanya sudah menikah dengan
Mas Bimo hampir 6 tahun lamanya.

“Dhek Lia, ndak
buru-buru kan? Ndak keberatan kalo kita ngobrol-ngobrol dulu”,
tiba-tiba mbak Artha mengagetkanku. ” Nggak papa mbak, kebetulan saya
juga lagi free nih, lagian kan kita dah lama nggak ngobrol-ngobrol”,
jawabku sambil menuju salah satu bangku di halaman TPA yang masih satu
komplek dengan Mesjid.

Dengan
suara yang pelan namun tegas mbak Artha mulai bercerita. Tentang
kehidupan rumah tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama Mas Bimo
yang smakin lama makin hambar dan kehilangan arah.

“Aku dan mas Bimo
kenal sejak kuliah bahkan menjalani proses pacaran selama hampir 3
tahun sebelum memutuskan untuk menikah. Kami sama-sama berasal dari
keluarga yang biasa-biasa saja dalam hal agama”, mbak Artha mulai
bertutur. “Bahkan, boleh dibilang sangat longgar. Kami pun juga tidak
termasuk mahasiswa yang agamis. Bahasa kerennya, kami adalah mahasiswa
gaul, tapi cukup berprestasi. Walaupun demikian kami berusaha sebisa
mungkin tidak meninggalkan sholat. Intinya ibadah-ibadah yang wajib
pasti kami jalankan, ya mungkin sekedar gugur kewajiban saja. Mas Bimo
orang yang sabar, pengertian, bisa ngemong dan yang penting dia begitu
mencintaiku, Proses pacaran yang kami jalani mulai tidak sehat, banyak
bisikan-bisikan syetan yang mengarah ke perbuatan zina. Nggak ada
pilihan lain, aku dan mas Bimo harus segera menikah karena dorongan
syahwat itu begitu besar. Berdasar inilah akhirnya aku menerima ajakan
mas Bimo untuk menikah”.

“Mbak nggak minta
petunjuk Alloh melalui shalat istikharah?”, tanyaku penasaran. “Itulah
dhek, mungkin aku ini hamba yang sombong,untuk urusan besar seperti
nikah ini aku sama sekali tidak melibatkan Alloh. Jadi kalo emang
akhirnya menjadi seperti ini itu semua memang akibat perbuatanku
sendiri”

“Pentingnya ilmu
tentang pernikahan dan tujuan menikah menggapai sakinah dan mawaddah
baru aku sadari setelah rajin mengikuti kajian-kajian guna meng upgrade
diri. Sejujurnya aku akui, sama sekali tidak ada kreteria agama saat
memilih mas Bimo dulu. Yang penting mas Bimo orang yang baik, udah
mapan, sabar dan sangat mencintaiku. Soal agama, yang penting
menjalankan sholat dan puasa itu sudah cukup. Toh nanti bisa dipelajari
bersama-sama itu pikirku dulu. Lagian aku kan juga bukan akhwat dhek,
aku Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang target untuk mendapatkan
ikhwan atau laki-laki yang pemahaman agamanya baik”, papar mbak Artha
sambil tersen

Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana

April 10th, 2008 by iwhayuuk

Aku
memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret
2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga
kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat
dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan
perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban
menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu
memang lumayan pelik.

Ulang
tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi.
Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku
menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah
membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak
apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”

Sekarang, pagi-pagi
ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen
rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja
tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin
mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik
napas panjang.

Heran,
apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku
mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak
ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada
momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas
merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.

Sedangkan
aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan
kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa
mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim
pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku
cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian
dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi,
masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah
mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal
titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan.
Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung
waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun
perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami
sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya
dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.

Rasa
kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang
sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang
bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di
rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama
lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

Sebenarnya,
hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin
berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan.
Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali
baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini.
Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa
perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

”Hen,
kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku
heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis
yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya
bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya,
hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja,
kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum
saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima
lamaranku lewat Diah.

”Kamu
kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku
sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi,
apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku
yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik.
Itu sudah lebih dari cukup buatku.

Minggu-minggu
pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti
layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi,
semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan
segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu
yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya
dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk
memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk
bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.

Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu.
Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas
smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut
perhatian suamiku.

Aku
langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku.
Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku
saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.

”Kenapa
Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa
basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia
selalu berhasil menebak dengan jitu.

Walau
awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku
berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum
mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah
Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi
terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa
kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras.
Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan
hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak
orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.

Aku
terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu
keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali
lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku
kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang
hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam
hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.

Ya,
selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir
tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku
dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan
memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin
beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan?
Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita
denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di
kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan
menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan
penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

”Hen,
kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan
yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…”
Ibu berkata tenang.

Aku
memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku
kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk
Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh
dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang
mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian
tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan,
rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan
waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh
hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa
mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua
saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa
aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena
kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku
segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah
dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak
memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

Makan
malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan
rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang.
Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima
smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.

Aku
terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding,
jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di
sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’
tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.

Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Lewat kata yang tak sempat disampaikan

Awan kepada air yang menjadikannya tiada

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *

Cerita Cinta

April 10th, 2008 by iwhayuuk

Alkisah, di
suatu pulau kecil tinggallah berbagai benda abstrak ada CINTA,
kesedihan, kegembiraan, kekayaan, kecantikan dan sebagainya. Mereka
hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai
menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan
menenggelamkan pulau itu.

Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. CINTA
sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai
perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan.
Sementara itu air semakin naik membasahi kakinya.

Tak lama CINTA melihat kekayaan sedang mengayuh perahu, “Kekayaan!
Kekayaan! Tolong aku!,” teriak CINTA “Aduh! Maaf, CINTA!,” kata
kekayaan “Aku tak dapat membawamu serta nanti perahu ini tenggelam.
Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.” Lalu kekayaan
cepat-cepat pergi mengayuh perahunya. CINTA sedih sekali, namun
kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan!
Tolong aku!,” teriak CINTA. Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia
menemukan perahu sehingga ia tak dapat mendengar teriakan CINTA. Air
semakin tinggi membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin
panik.

Tak lama lewatlah kecantikan “Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!,”
teriak CINTA “Wah, CINTA kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu
pergi. Nanti kau mengotori perahuku yang indah ini,” sahut kecantikan.
CINTA sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat
itulah lewat kesedihan “Oh kesedihan, bawlah aku bersamamu!,” kata
CINTA. “Maaf CINTA. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..,”
kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. CINTA putus asa.

Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat
kritis itulah tiba-tiba terdengar suara “CINTA! Mari cepat naik ke
perahuku!” CINTA menoleh ke arah suara itu dan cepat-cepat naik ke
perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat,
CINTA turun dan perahu itu langsung pergi lagi. Pada saat itu barulah
CINTA sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa yang
menolongnya. CINTA segera bertanya pada penduduk pulau itu. “Yang tadi
adalah WAKTU,” kata penduduk itu “Tapi, mengapa ia menyelamatkan aku?
Aku tidak mengenalinya. Bahkan teman-temanku yang mengenalku pun enggan
menolong” tanya CINTA heran “Sebab HANYA WAKTULAH YANG TAHU BERAPA
NILAI SESUNGGUHNYA DARI CINTA ITU”

Sempunakah Kita Untuk Mencari Orang Sempurna Sebagai Teman Hidup ?

February 4th, 2008 by iwhayuuk

Ini
kisah perjumpaaan dua orang sahabat yang sudah puluhan tahunberpisah.
Mereka amat merindui antara satu sama lain, berbual, bersenda sambil
minum kopi di sebuah cafe.Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal2
nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan
mereka sekarang ini.
   
"Mengapa sampai sekarang kamu belum
menikah?" ujar seorang kepada temannya yang sampai sekarang masih
membujang. "Sejujurnya sampai sekarang ini saya masih terus mencari
wanita yang sempurna. Itulah sebabnya saya masih membujang. Dulu waktu
saya di Utara, saya berjumpa dengan wanita yang cantik yang amat
bijaksana. Saya fikir inilah wanita ideal untuk saya dan sesuai menjadi
isteri saya. Namun belakangan selepas itu pada masa berpacaran baru
akutahu dia sebenarnya amat sombong. Hubungan kami putus sampai disitu.
Di Ipoh saya ketemu seorang perempuan yang cantik jelita
,ramah
dan dermawan. Pada perjumpaan pertama aku begitu takjub dan seronok.
Hatiku berdesir kencang, inilah wanita idealku. Namun selepas itu baru
saya tahu, ia banyak tingkahlaku yg tak baik dan tidak bertanggung
jawab.
   
Dan ketika aku di JB, aku bertemu wanita yang
manis, baik, periang dan pintar. Dia sangat menyenangkan bila diajak
berbicara, selalu menyambung perbualan kami dan penuh humor. Tapi
terakhir aku ketahui kalau dia dari keluarga yang berantakan yakni
berpecahbelah dan selalu menuntut sesuatu yang kita tidak mampu
memenuhinya. Akhirnya
kami berpisah. 
   
Saya terus
mencari, namun selalu mendapatkan kekurangan dan kelemahan pada wanita
yang saya temui. Sampai pada suatu hari, saya bersua dengan wanita
ideal yang saya dambakan selama ini. Ia begitu cantik pintar, baik
hati, dermawan dan penuh humor. Dia juga sangat perhatian dan sayang
kepada orang lain. Saya fikir inilah pendamping hidup saya yang dikirim
oleh Tuhan untuk saya". "Lantas", sergah temannya yang dari tadi tekun
mendengarkan "Apa yang terjadi? Mengapa kamu tidak terus meminangnya?
". Yang ditanya diam sejenak dan akhirnya dengan suara perlahan si
bujang itu menjawab,
"Baru sekarang aku mengetahui bahawa ia juga sedang mencari lelaki yang sempurna". 

Sempunakah Kita Untuk Mencari Orang Sempurna Sebagai Teman Hidup ?

February 4th, 2008 by iwhayuuk

Ini
kisah perjumpaaan dua orang sahabat yang sudah puluhan tahunberpisah.
Mereka amat merindui antara satu sama lain, berbual, bersenda sambil
minum kopi di sebuah cafe.Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal2
nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan
mereka sekarang ini.
   
"Mengapa sampai sekarang kamu belum
menikah?" ujar seorang kepada temannya yang sampai sekarang masih
membujang. "Sejujurnya sampai sekarang ini saya masih terus mencari
wanita yang sempurna. Itulah sebabnya saya masih membujang. Dulu waktu
saya di Utara, saya berjumpa dengan wanita yang cantik yang amat
bijaksana. Saya fikir inilah wanita ideal untuk saya dan sesuai menjadi
isteri saya. Namun belakangan selepas itu pada masa berpacaran baru
akutahu dia sebenarnya amat sombong. Hubungan kami putus sampai disitu.
Di Ipoh saya ketemu seorang perempuan yang cantik jelita
,ramah
dan dermawan. Pada perjumpaan pertama aku begitu takjub dan seronok.
Hatiku berdesir kencang, inilah wanita idealku. Namun selepas itu baru
saya tahu, ia banyak tingkahlaku yg tak baik dan tidak bertanggung
jawab.
   
Dan ketika aku di JB, aku bertemu wanita yang
manis, baik, periang dan pintar. Dia sangat menyenangkan bila diajak
berbicara, selalu menyambung perbualan kami dan penuh humor. Tapi
terakhir aku ketahui kalau dia dari keluarga yang berantakan yakni
berpecahbelah dan selalu menuntut sesuatu yang kita tidak mampu
memenuhinya. Akhirnya
kami berpisah. 
   
Saya terus
mencari, namun selalu mendapatkan kekurangan dan kelemahan pada wanita
yang saya temui. Sampai pada suatu hari, saya bersua dengan wanita
ideal yang saya dambakan selama ini. Ia begitu cantik pintar, baik
hati, dermawan dan penuh humor. Dia juga sangat perhatian dan sayang
kepada orang lain. Saya fikir inilah pendamping hidup saya yang dikirim
oleh Tuhan untuk saya". "Lantas", sergah temannya yang dari tadi tekun
mendengarkan "Apa yang terjadi? Mengapa kamu tidak terus meminangnya?
". Yang ditanya diam sejenak dan akhirnya dengan suara perlahan si
bujang itu menjawab,
"Baru sekarang aku mengetahui bahawa ia juga sedang mencari lelaki yang sempurna". 

Semua ini punya makna

November 8th, 2007 by iwhayuuk

sepanjang perjalanan cintamu
kau bilang aku yang paling tangguh
tapi mengapa kau tinggalkan aku
dengan alasan yang tak jelas

apa aku pernah mengeluh
apa aku pernah berlari
saat kau ada masalah
apa aku pernah membual
apa aku tak mengimbangimu
sayang kau menilaiku salah

sepanjang perjalanan cintamu
kau puji setiap waktu
tapi kenyataannya berlawanan
kutak pernah ada baiknya

Apa Aku Pernah mengeluh Sayang??

Apa aku selalu membuat kamu merasa sulit??

I Love You…

June 6th, 2007 by iwhayuuk

BuCuQ sayang….

April 27th, 2007 by iwhayuuk

hallo, rasanya sudah setahun yach Q ga ngepost…

memang menjadi anak 17 + itu sulit, banyak masalah demi masalah datang dengan tak diduga, tak diundang…

memang berat sih, belum selesai masalah ngerjain teman, datang lagi masalah orang cemburuan. padahal itu sebenarnya ga perlu dipermasalahkan coz Q ga bakalan lari…Q akan menjaga yang ada didepanku..

tapi sulit untuk meyakinkan orang itu, yach mau diapa lagi memang sifatnya yang keras. tapi dibalik sifatnya itulah aku menyayanginya seperti menyayangi bayangan dalam cermin.

yach sulit, sulit, sulit.

walaupun sulit aku akan terus berusaha untuk meyakinkan dia, karena aku yakin dengan menyayangi seseorang, maka kita diajarkan untuk lebih menghargai orang lain…

miss u… bye

Sendiri

April 15th, 2007 by iwhayuuk

sendiri memang rasa yang sangat menyedihkan…

tanpa kawan…

tanpa keramaian dan lelucon…

tapi terkadang sendiri juga merupakan obat yang paling baik buat mengobati hati…

dengan sendiri kita banyak berbuat sesuatu yang tidak dapat kita laksanakan sebelumnya…

Dia Yang Ku Sayang

April 3rd, 2007 by iwhayuuk

adalah dia seseorang yang sangat berarti. dia begitu sempurna. aku sangat ingin meraihnya… tapi…dia serasa begitu jauh dari aku.

saat ini aku hanya ingin dia sellu berada di dekatku.

saat ini aku hanya ingin dia merasakan kehadiranku…

walaupun ia cuek, aku akan berusaha membuat dia tersenyum

karena DIA orang yang Ku sayang….